Catatan : Richard
Siapa nyangka dan tidak terbayangkan sama sekali, dulu kawasan yang terkenal dengan tenda biru/ tenda ceper tempat memadu kasih, terkesan minor.
Bahkan terkesan kurang bersih.
Bila waktu dulu singgah ke kawasan tersebut oleh sebahagian orang akan merasa risih dan kurang srek disebut ada “apa apanya dong”./ Minor.
Melihat kondisi yang begituan dan kurang srek tersebut.
Mungkin sudah diupayakan beberapa walikota sebelumnya untuk penataan lebih bagus dan lebih reliiqus, namun belum berhasil.secara menyeluruh.
Tetapi dimasa kepemimpinan Walikota Padang dua periode Fauzi Bahar dilakukanlah/ dilanjutkan gebrakan besar besaran penataan kawasan pantai Padang menjadikan kawasan wisata keluarga yang reliqus dengan melibatkan berbagai komponen, seperti Forkopimda, berbagai organisasi kemasyarakatan dan masyarakat di kawasan tersebut.
Tidaklah mudah mewujudkan impian tersebut, pastilah dapat tantangan.yang amat berat.
Merubah kebiasaan tertentu ke hal hal baru sudah jelas tidak semudah pembalik telapak tangan, butuh waktu panjang dan kerja serius
Pimpinan kota itu tidak hanya memerintahkan anak buahnya dari dibelakang meja, tetapi ia betul betul turun ke lapangan ke kawasan yang akan ditata tersebut.
Untaian kata kata minor dan tak pantas sudah menjadi kebiasaan pendengaran waktu itu dalam melakukan penataan.
Berkat kegigihan dan keseriusan Pemko wak tu itu secara perlahan tetapi pasti, maka berubahlah kawasan tersebut.
Dari semula dipandang sebelah mata, menjadi mata melotot ke kawasan tersebut.
Tenda tenda biru / tenda ceper yang menjamur di kawasan itu dibersihkan, dan diganti dengan tenda yang lebih terbuka tanpa ada skat skat pembatas satu sama lain..
Juga dilakukan pembebasan lahan untuk jalan dua jalur disepanjang pantai Padang itu,
berhasil walaupun masih ada yang tersendat belum dituntaskan pembangunannya.
Masuk ke kepemimpinan Walikota Mahyeldi Ansharullah, dan Wako Hendri Septa, dilanjutkan penataan.kawasan tersebut, seperti melanjutkan penataan Lapau panjang, dan PKL, penataan/ pengaspalan ruas jalan, trotoar, gelanggang pantai puruih, melengkapi sarana prasarana pendukung penting lainnya.
Yang semakin menguatkan bahwa kawasan wisata Pantai Padang kawasan yang reliqus dengan keberadaan sebuah mesjid bernilai miliaran rupiah yang sangat indah di bibir pantai, yaitu Mesjid Al Hakim, yang dibangun secara mandiri oleh perantau Minang di Jakarta,
Batu batu besar/ grib yang dibangun pemerintah di bibir pantai siap menghadang ombak laut demi kenyamanan mesjid.
Ternyata mesjid ini pula yang punya daya tarik/ icon wisatawan berkunjung ke pantai Padang,
Bisa beribadah sambil menikmati suasana pantai dan keindahan Gunung Padang yang melegenda/ dengan kuburan Siti Nurbaya. nya.
Kawasan Pantai Padang kini.menjadi kawasan wisata keluarga yang reliqus dan bersih. berbagai aneka kuliner tersedia disini.
Disitu juga didukung keindahan Monumen Berung Merpati sebagai simbol perdamaian, tugu IORA, dan Taman Muaro Lasak, yang membuat kawasan tersebut semakin ramai dikunjungi para wisatawan lokal dan.manca negara.
Yang menjadi tantangan saat ini agar para pedagang harus betah menempati posisinya yang sudah diatur Pemko Padang, dan sekaligus menjaga kebersihan, keindahan dan ketertiban kawasan.wisata pantai itu.
Tugas Walikota Fadly Amran kini adalah mempertahankan yang sudah baik itu, dan .melanjutkan pembenahan ke arah yang lebih jitu dan tetap mempertahankan pentas hiburan tradisional yang sudah dirancang secara kontinyu.
Citra wisata keluarga yang reliqus dan bersih harus tetap dipertahankan.
Ekonomi warga akan menggeliat dan pendapatan masyarakat membaik.
Harga kuliner harus standar , dan suasana parkir harus tertib, nyaman/ tidak terkesan memeras dan tarifnya sesuai standar Pemko
Icon wisata pantai yang reliqus tetap langgeng, dan sudah mendunia agar dijaga bersama,
Semoga wisata pantai Padang semakin jaya dan mampu menggenjot pendapatan masyarakat.


