
Memang bukan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilihan Legislatif. Bukan pula, Pemilihan Presiden (Pilpres). Tanpa kampanye dan menarik simpati warga melalui Bansos, sembako atau money politik. Tapi, gaya pendekatan dan permainan mirip. Bahkan, hampir sama banget.
Ya, kalau beda, itupun beda beda tipis. Walau setipis kulit ari, tapi tercium juga aroma jual beli suara. Ini perkiraan saja. Semoga sebuah dugaan tanpa diiringi fakta. Karena, mengurus sepakbola, bukan memperkaya diri. Tapi, pengabdian dan panggilan hati. Terlepas dari semua itu, sepakbola susah juga dipisahkan dengan politik
Karena dalam dunia politik, saat kampanye, saat sosialisasi, kadang sepakbola menjadi pencitraan. Menarik simpati warga dengan ‘janji palsu, pemanis kata’. Bergaya bak maradona. Selfie bak Ronaldo merobek gawang lawan. Padahal, selama ini tak tahu sepakbola, tak pernah terlibat dalam sepakbola. Apalagi, mengurus bola
Sepakbola Bukan Politik Pencitraan
Cerita diatas beda dengan Kongres Pemilihan Ketua PSSI Sumbar. Meski, sama sama berlatar belakang politikus, tapi sudah lama bergelut di sepakbola. Bukan ketika kampanye saja tapi separoh jiwanya sudah tertanam sepakbola. Dua kandidat yang maju, Andre Rosiade, Anggota, DPR RI, Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar, penasehat Semen Padang FC, sudah tak diragukan lagi, pengorbanan dan pengabdian terhadap sepakbola
Begitu juga Indra Datuk Rejo Lelo, anggota DPRD Sumbar, mantan Ketua DPW PAN Sumbar, Ketua Asprov PSSI Sumbar, sudah melalang buana di dunia sepakbola. Dua sosok ini, bukan menjadikan sepakbola pencitraan politik, tapi tulus, ikhlas memajukan sepakbola di Ranah Minang. Ini membuktikan politik dan sepakbola tak bisa dipisahkan. Beda dengan politik pencitraan di sepakbola, hadir pada momen tertentu saja
Arisal Aziz Mundur, Andre Rosiade dan Indra Datuk Rajo Lelo ‘Siap Tempur‘
Komite Pemilihan Kongres Biasa Pemilihan PSSI Sumatera Barat tahun 2025, resmi menetapkan dua bakal calon Ketua PSSI Sumatera Barat. Dua bakal calon yang memenuhi syarat itu, Andre Rosiade dan Indra Datuk Rajo Lelo. Penetapan ini, setelah Komite Pemilihan (KP) menyelesaikan prosee verifikasi dan pemeriksaan berkas. Ini tertuang dalam SK yang ditandatangani oleh Drs. Batlimus, ketua merangkap anggota
Sementara, Arisal Aziz didukung dua pemilik suara, tarik diri dari Bakal Calon (Balon) Ketua PSSI Sumbar 2025 – 2029. Kongres yang diselenggarakan tanggal 29 November 2025 itu, dua kandidat sudah mulai bergerilya melalui tim pemenang, mempengaruhi 28 voter yang berhak memberikan suara. Kepada siapa suara voters itu diberikan. Terlalu pagi untuk menjawab.
Voters Punya Suara, Haruskah Menjual Suara?
Dua 28 voters berhak memberikan suara. Rinciannya, 19 dari Askot, Askab Kota dan Kabupaten. 6 peserta Liga 4 musim 2024-2025, 1 perwakilan wasit, 1 perwakilan sepakbola putra dan 1 satu lagi dari futsal. Kalau ingin menang, kandidat tinggal meraih 50% plus 1 atau 15 suara. Perjuangan yang sangat berat, ditengah persaingan yang ketat, demi menjadi Ketua PSSI Sumatera Barat
Nah, kembali kita ke politik. Saat Pilpres, Pilkada Pileg, calon biasanya mencari suara dengan berbagai cara. Termasuk money politik atau uang yang bicara. Apakah, ini juga akan terjadi pada kongres yang akan diselenggarakan 29 November 2025. Ya, bisa tidak bisa juga jadi. Voters juga manusia, punya hati punya rasa. Ada uang ada suara.
Terlepas, terbukanya peluang, diharapkan kongres jauh dari permainan curang. Voters jangan tergoda rayuan, harga diri harus dipertahankan. Pilihlah dengan hati, jangan berharap materi. Karena masa depan sepakbola Sumbar, juga tergantung suara 28 voters. Jangan gadaikan suara. Saatnya bersuara dengan nurani Cerita sampai disini, kita sambung nanti
Penulis
Novri Investigasi


