
PADANG, INVESTIGASI_Kepedulian pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) terhadap pembangunan infrastruktur, terutama irigasi di Sumbar, pantas diapresiasi. Salah satu yang menjadi perhatian dan diharapkan menjamin ketersediaan air dilahan yang sulit air, yakni Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT)
Menjadi harapan bagi petani di sejumlah kawasan Kota Padang, termasuk di Bungus Teluk Kabung, keberadaan JIAT, mampu memberi pasokan air yang memadai mengaliri sawah mereka. Dan, JIAT milik Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT), PJPA WA IAKR, Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) Sumbar, menjadi solusi petani yang selama ini, kesulitan mendapat pasokan air setiap musim kemarau.
Proyek bernomor kontrak HK.02.03/01/SNVT-PJPA-WS-IAKR/ATAP-II/IX/2025 tertanggal 15 September 2025, sudah dipenghujung pekerjaan. Sebab, progres diakhir Juni 2026, sudah mencapai 93.16 %. Meski terkendala keterlambatan pekerjaan, itu bukan disebabkan kelalaian. Tapi, pasokan material yang terkendala akibat pecahnya perang Teluk
Bukan tanpa alasan, apalagi mencari pembenaran, proyek senilai Rp13.976.074.000, sumber dana APBN, dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero), untuk material spare part, seperti pompa dan sollar cell yang diimpor, terlambat sampai ke lokasi.
Terlepas beragam persoalan mengiringi pekerjaan, rekanan tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan, meski harus menerima resiko denda. Bekerja diantara deru persoalan, gejolak permasalahan, proyek masa pelaksanaan 228 hari kalender itu, sudah bisa dinikmati petani.
Bahkan, bangunan megah, terlihat kokoh diantara sawah dan perbukitan. Tidak saja, membantu petani, juga memperindah lokasi tempat proyek itu dikerjakan. Wajar saja, pekerjaan proyek JIAT ini, menuai apresiasi yang luar. Karena, mampu menjawab persoalan yang menerpa petani selama ini. Sulit untuk mendapat air, saat kemarau. Sehingga, berpengaruh terhadap hasil panen
Sudah Dinikmati Petani, Keterlambatan Disebabkan Terkendala Material Impor
Setiap pekerjaan proyek, pasti ada kendala yang menyertai. Seprofesional apapun rekanan, tak mampu menghadang bencana, cuaca ekstrem maupun persoalan material. Inipun menerpa pekerjaan JIAT di Bungus Teluk Kabung. Keterlambatan material spare part menjadi penyebab, perang Teluk menjadi penghalang.
Inipun diakui Dian PPK. Katanya, Kamis (16/7) via WA, proyek Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dilaksanakan oleh penyedia jasa, mengalami keterlambatan dari jadwal kontrak awal. Penyebabnya, beberapa spare part, seperti pompa dan solar cell yang diimpor terlambat sampai di lokasi
Keterlambatan, bukan terkait anggaran, bukan juga tak mampu mendatangkan dengan cepat. Perang Teluk, menghalangi untuk mendatangkan bara impor tersebut. Namun, semua sudah teratasi, meski terkena denda akibat keterlambatan pekerjaan.
“Sedangkan progres per 29 Juni sudah mencapai 93,16%. Dari 8 lokasi yang dikerjakan, 6 lokasi sudah selesai jaringannya dan dipasang pompa. Sementara, 1 lokasi lagi masih dalam proses konstruksi sumur. Terkait keterlambatan pekerjaan penyedia jasa, dikenakan denda. Sementara, sisa pekerjaan tetap wajib diselesaikan sampai terbitnya Berita Acara PHO,” katanya mengakhiri
Penulis
Novri Investigasi


