
Catatan : Richard, Akb.
Malang sekejab mata dan mujur sepanjang hari/ jalan.
Begitulah barangkali ungkapan yang bisa disampaikan.
Tidak satupun manusia diatas bumi yang menginginkan musibah, tetapi bila Yang Maha Kuasa Berkehendak tak seorangpun yang bisa menghambatnya.
Musibah banjir bandang akhir November 2025 ( seperti tgl, 23, 24,25,26,27,28,29) yang menimpa sebahagian besar rakyat Indonesia, seperti kawasan Sumut, Aceh, Sumbar dan lainnya, begitu dahsyad.
Menimbulkan kerusakan di berbagai infrastruktur kota/ kabupaten, korban nyawa yang cukup besar, rumah, tanaman, irigasi, jembatan, jalan, harta benda dan lainnya.
Tidak sedikit aparat , Ormas, yang diturunkan untuk membantu membenahi kawasan yang hancur dan masyarakat yang berdampak dari bencana tersebut.
Juga tenaga medis diturunkan, kebutuhan harian masyarakat yang terkena musibah disalurkan.
Baik oleh masyarakat, Ormas, Pemda, dewan, bahkan dari pemerintah pusat.
Langkah cepat tersebut patut dipujikan, karena masyarakat dan pemerintah bahu membawa membantu warga yang ditimpa musibah.
Sehingga beban berat tersebut setidaknya dapat memberi hiburan dan mengurangi rasa duka.
Pasca musibah tentu terlihat puing puing kehancuran di depan mata.
Mungkin pemerintah telah mulai melakukan pendataan yang jelimet terhadap infrastruktur yang rusak, termasuk bangunan rumah masyarakat yang hancur, bahkan hilang ditelan banjir bandang .
Untuk itu diharapkan pemerintah melakukan pendataan yang betul betul profesional, tidak ada yang tidak terdata.
Dengan data yang akurat, tentu dapat mengambil langkah yang terbaik saat ini dan dimasa mendatang.
Misalnya, bangunan masyarakat yang hancur jangan luput dari pendataan. Kalau ada kebijakan penyaluran bantuan pasca banjir yang bersangkutan tentu juga kebagian.
Begitu juga halnya terhadap berbagai infrastruktur dan sarana prasarana atau fasilitas umum yang rusak agar terdata dengan baik.
Dengan adanya data yang baik tentu bisa dibuat skala prioritas. Mana yang benar benar didahulukan dan mana yang nomor berikutnya.
Dengan demikian Masyarakat puas dan pemerintah dipuji.
Melihat di sejumlah kawasan yang begitu parah. Pasti mulai tahun depan 2026 dan tahun berikutnya setidaknya sudah mulai dirancang atau dimulai pembenahan infrastruktur yang hancur.
Proyek mungkin melimpah / banjir proyek dan anggaran tentu disesuaikan dengan kondisi kas daerah/ pusat.
Pekerjaannya tentu harus profesional dan sesuai speks.
Jangan luka setelah di obat, berdarah lagi, dan pelaksana dikejar kejar ?.


