
Dulu kumuh, kotor, sempit dan jorok. Itulah gambaran wajah Kawasan Batang Arau, sebelum dilakukan pembenahan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Gelontoran dana sebesar Rp25 M itu, merubah wajah Kawasan Batang Arau, menjadi indah berseri. Bahkan, menjadi icon wisata Kota Padang
Pembenahan Kawasan Batang Arau itu, meliputi pembangunan jalan, pekerjaan trotoar, drainase, sarana olahraga, taman, pagar dan fasilitas umum lainnya, termasuk kapal Datuk Maringgih dilengkapi 3 dimensi. Sehingga, kapal iti seakan hidup berlayar ditengah gelombang.
Tidak berhenti sampai disitu saja, bahkan pembangunan kawasan Batang Arau ini berlanjut tahun 2019 dengan tambahan dana dari APBN sebesar Rp19 M untuk penuntasan pendestrian dan drainase di Kelurahan Seberang Palinggam. Kepedulian yang tinggi pemerintah pusat itu, menjadikan kawasan Batang Arau, makin mempesona dan sejuk dipandang mata
Diserahterimakan Kepada Pemko Padang
Setelah pekerjaan selesai. Kawasan Batang Arau, makin mancilak dan rancak. Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR melakukan serah terima secara resmi kepada Pemko Padang. Serah terima awal itu dilakukan, Sabtu, 1 Januari 2019 oleh Kepala Satuan Kerja Pengembangan Infrastruktur Permukiman Balai Prasarana Permukiman Wilaya (BPPW) Zulherman kepada Walikota Padang, Mahyeldi. Serah terima berikutnya, senilai Rp54 M kepada Walikota Padang Hendri Septa 2021
Juga dihadiri Kepala Satuan Kerja Rendal Cipta Karya, Syafrianti, Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Padang Yenny Yuliza dan sejumlah OPD. Bahkan, pada saat itu Mahyeldi, Walikota Padang berharap OPD terkait, agar bersinergi dalam kelancaran pembangunan di kawasan Batang Arau tersebut.
Kapal Datuk Maringgih Hancur
Dibalik rancak dan mancilaknya Kawasan Batang Arau yang sekarang menjadi icon wisata Kota Padang, terkesan kurangnya perawatan dan pemeliharaan. Buktinya, kapal Datuk Maringgih, kondisinya sekarang sudah hancur berantakan. Padahal, dulu dilengkapi 3 Dimensi, seakan kapal bergerak ditengah gelombang
Viewnya nan menawan dan patung Datuk Maringgih berdiri didepan, menjadi rebutan pengunjung untuk berselfi dan diabadikan dalam kenangan. Apalagi, malam hari, sinaran lampu mempercantik kapal Datuk Maringgih. Ditambah latar belakang Gunung Padang, Jembatan Sitinurbaya Pelabuhan Muara, perpaduan dengan Kota Tua, menjadikan lokasi itu, semakin indah mempesona
Warga yang berpoto di kapal itu, juga membagikan ke media sosial. Sehingga, kawan Batang Arau dan kapal Datuk Maringgih jadi viral. Sayang, itu tak bertahan lama. Kapal Datuk Maringgih, bak bangkai kapal bersandar di Muara. Tak lagi menjadi perhatian. Hingga hancur berantakan akibat hujan dan badai. Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


