
Jalan itu, disamping urat nadi perekonomian, juga membuat kenyamanan pengendara melintasi jalan tersebut. Pembukaan jalan, peningkatan jalan, pemeliharaan jangan, jangan sekedar mengutamakan estetika, tapi juga perhatian juga etika
Jangan sekedar ‘rancak di labuh’ Jalan rancak, bak hamparan permadani. Mulus, rapi dan bagus untuk di foto. Tapi, etika tanggungjawab, keselamatan warga dan pengendara dibalik aspal, terabaikan
Khusus di Kota Padang, hasil telusuran media ini, ada dua titik pekerjaan jalan yang sangat memprihatinkan. Sekilas tampak bagus, aspal hitam membentang panjang, terasa nyaman dilewati, tenang hati melintasi dan sejuk dipandang mata
Namun, setelah dilewati secara perlahan, mengamati dengan seksama, berdesir darah di dada. Jalan yang baru diaspal itu, mengundang bahaya. Bahkan, cerita warga didepan jalan itu, sudah banyak korban berjatuhan. Padahal, baru sebulan dikerjakan
Kenapa tidak, jalan beraspal baru itu, tak ada bahu jalan. Bibir aspal, tergantung, sehingga menyebabkan warga sering terperosok melewati. Jalan sempit bahu jalan tak, mengakibatkan pengendara dua terjungkal dan kendaraan empat terperosok
Anehnya, jalan Aru Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang itu, sudah sering terjadi kecelakaan, namun tak kunjung mendapat perhatian. Seakan cuek tanpa perasaan. Padahal, sudah banyak korban berjatuhan
“Jalan baru diaspal sebulan ini, bukan membuat nyaman, tapi menambah beban. Karena sudah korban berjatuhan. Sampai sekarang, tak kunjung dilakukan perbaikan,” ujar As warga setempat, Sabtu (12/9) sekira pukul 11.00 WIB.
Warga berharap kepada Dinas PUPR Kota Padang dan rekanan yang mengerjakan proyek jalan ini, agar segera memperbaiki. Jika tidak ingin korban bertambah lagi. “Jalan baru, bukan kenyamanan dirasakan, tapi menambah kecemasan,” ujarnya lagi
Penulis
Novri Investigasi


