
Pilu, pedih dan perih, terasa menyesak dada. Tekat mengenyam pendidikan, tak kunjung padam, meski berbagai rintangan menghadang. Ibarat pepatah, bukit kan ku daki, lautan kan kuseberangi, asal cita cita tercapai meraih masa depan.
Sepenggal cerita duka ini, mengiringi kepiluan hati, saat melihat sebuah video rekaman video yang berlatar belakang di Desa Sagalubbeg, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten, Kepulauan Mentawai, tanggal 7 Oktober 2026
Bukan adegan film, bukan sinetron yang menyentuh hati penonton. Sebuah realita yang menusuk hati dan memainkan perasaan. Tanpa ending, tapi kisah sedih tak bertepi. Perjuangan ‘maut’ demi sebuah harapan menggapai masa depan
Perjuangan Menantang Maut
Sebuah pemandangan yang mengharu biru. Sekelompok anak sekolah menyeberangi sungai. Diderasnya air, diantara bebatuan, mereka berjuang, walau harus jatuh bangun. Tergilincir dan terbawa arus, sorak gembira mengiringi semangat mereka
Semangat kebersamaan, tertanam didada, ditengah badai derita menghampiri mereka. Saling berpegangan, saling bantu membantu, agar sampai ke seberang. Perjuangan tak kunjung redup, ditengah kurangnya perhatian pemerintah setempat
Tanpa Jembatan Menyambung Harapan
Jembatan yang diharapkan menyambung harapan mereka, meraih masa depan, tak kunjung diperbaiki. Padahal, jembatan bukan saja urat nadi perekonomian, tapi jiwa warga menyambung kehidupan. Jantung siswa, memperoleh pendidikan
Masih tersisa harapan, suatu saat mereka bisa menyeberang dengan jembatan. Harapan itu, tertitip kepada pemerintah daerah agar bisa diwujudkan. Biar semangat mereka mengenyam pendidikan membara demi meraih cita cita. Namun, sampai kapan, mimpi mendapatkan jembatan, jalan menuju masa depan
Penulis
Novri Investigasi


