Lubuk Selasih jalan babelok
Luruih jalan ka Kayu Aro
Masih taraso duka rang Solok
Tambang ilegal marangguik nyao
Alahan Panjang bajalan terjal
Tararuih jalan ka Surian
Lah mulai baliak tambang ilegal
Maraung eskavator marambah hutan
Tagak manjago Gunuang Talang
Tatutuik kabuik di hari sanjo
Batanyo juo urang sagalanggang
Sia bana dibalakangnyo

Antah apo nan tajadi. Lah pacah kaba barito. Dulu sempat mati suri, dek banyak maranguik nyao. Kini muncul kembali, panambang ilegal mulai beroperasi. Lah heboh galanggang rami, batanyo juo ka bakeh diri. Sia bana dibalakangnyo
Babagai media online di Sumbar nan mambaritoan. Penambang Ilegal Tanpa Izin (PETI), beraktifitas kembali. Berjalan lancar tanpa hambatan. Semua bungkam, semua diam, aktifitas seakan tertutup awan hitam, dek lah banyak kanai siram
Alat berat bergerak lincah dan henti henti merambah. Menari nari mengiringi kicauan burung, tak pedulian jeritan orang se kampung. Raungan eskavator memecahkan kesunyian, disinyalir merayap di dua Kecamatan, yakni Kecamatan Hilir Gumanti dan Payung Sekaki dan Tigo Lurah.
Disebut pemain lama yang gantung eskavator ‘comeback’ mengisi lokasi yang pernah ditinggalkan. Bahkan, sosok oknum tokoh masyarakat setempat kembali mencuat. Seakan tak tersentuh hukum, dengan gagah berani dan dibeking pemain lama, gerakannya seakan tak terhadang
Instruksi Presiden Tak Jadi Penghambat
Benar benar nekat. Tak perduli jeritan dan tangisan rakyat Instruksi Presiden Prabowo agar TNI dan Polri memberantas tambang ilegal diseluruh Indonesia tak menjadi penghambat. Padahal, instruksi orang nomor satu di Indonesia ini, bertujuan, menindak tegas praktik pertambangan tanpa izin untuk mencegah kebocoran keuangan negara
Dan, mendorong pengelolan WPR dan IPR yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kesejahteraan penambang rakyat. Larangan tinggal larangan. Buktinya, kembali beroperasi, walau sempat padam akibat penertiban aparat gabungan. Kok bisa, ada apa?
Haruskah Menunggu Korban Lagi
Tanda tanya bergayut di hati di warga. Haruskah terulang luka lama. Belum kering air mata, anak istri, kakak adik, sanak saudara kehilangan nyawa. Sekarang datang lagi, merambah hutan, merusak sungai. Mengundang longsor dan bencana
Demi mencari kekayaan, jangan warga dikorbankan. ‘Lingkaran’ yang ikut bermain, selama ini, seakan tak peduli derita yang dialami. Bahkan, menjadi pelindung orang luar yang merampas hasil bumi negeri ini. Tertutup mata, mati hati nurani, tak perduli bencana menimpa sanak saudara sendiri. Haruskah, makan korban lagi.
Penulis
Novri Investigasi


