
PADANG, INVESTIGASI_Bukan yang pendek, terlalu lama berteman derita.
Enam tahun buktikan kesetiaan. Cinta tak pernah pudar dihati Herigusman, merawat istri yang terbaring lemah berteman infus.
Disebuah rumah sederhana, padat penduduk, tepatnya di RT 22 Kelurahan Kampung Manggis Kota Padang Panjang. Rumah mungil, tapi istana bagi pasangan suami istri, Herigusman menitipkan sebagian besar menemani istri selama enam tahun. Bukan untuk beristirahat, melainkan setia mendampingi perempuan yang menjadi sandaran jiwa. Isteri sang dambaan hati, ibu dari anak anaknya.
Selama Enam tahun, istrinya hanya terbaring lemas, berjuang melawan penyakit diatas ranjang, Tubuhnya semakin rapuh , nafasnya bergantung pada selang infus dan oksigen. Hari hari dilewati, berteman sunyi.
Namun, Herigusman yang lebih akrab disapa Heri, tak pernah menduakan cintanya. Setiap pagi bangun sebagai seorang Ayah yang harus mencari nafkah. Dan, setiap sore ia kembali sebagai suami, merawat, menyuapi, memberikan obat, membenarkan posisi tidur. Tak lupa, dalam sujud, memanjatkan doa-doa lirih disisi ranjang.
Tak pernah terucap keluhan. Tak ada ratapan dan penyesalan. Hanya keteguhan, kesabaran, dan cinta kasih yang bekerja dalam diam. Ditengah kelelahan yang menumpuk, Heri memilih bertahan untuk berjuang. Bukan karena hidup mudah, tapi karena cinta. Baginya sebagai seorang suami, ini menjadi tanggung jawab, bukan pilihan.
Dalam sunyi pengabdiannya, Heri meyakinkan setiap kesabaran tak pernah luput dari pandangan Allah. Seperti firman-nya. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”( QS.ALBAQARAH 153). Ayat itu bukan sekedar hanya dibaca, tetapi ia jalani , hari demi hari tanpa banyak kata. Hanya keteguhan ayat ini yang selalu terpatri dalam dihatinya . Hasbunallah wanikmat wakil, nikmat maula wanikmal nasir.
Ia juga percaya pada Sabda Rasulullah Saw “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosanya”(HR BUKHARI dan MUSLIM).
Maka, setiap letih, setiap lelah, setiap air mata yang berlinang dalam diam, ia niatkan sebagai ibadah .
Kini, dambaan hati itu telah dijemput Allah. Hanya air mata menemani duka yang mendalam. Dalam kesedihan, harapan masih tersisa, demi tiga buah cinta mereka Yessi, Iwan, Ilfi, ILFI.
Heri telah mengantarkan isterinya dengan kesetiaan yang sempurna, mencintai dalam kondisi apapun , setia dalam ujian dan ikhlas hingga akhir. Ia telah menunaikan amanahnya sebagai seorang Suami, sebagai seorang Ayah dan sebagai hamba Allah.
Dalam hening setelah kepergian Isteri tercinta, cinta sejati tak perlu dirayakan dengan kata-kata. Kadang ia hadir dalam kesabaran yang panjang pengorbanan yang sunya, doa yang tak pernah putus.
Bagi Heri, enam tahun pengabdian itu bukanlah beban, melainkan jalan menuju Ridhonya Allah.
Penulis
Rama


