
Investigasi-Sijunjung — Rabu pagi (27/8), halaman SMA Negeri 1 Sijunjung tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pukul 08.00 WIB, para siswa berbaris rapi memasuki aula sekolah. Di wajah mereka terlihat rasa penasaran. Bukan tanpa sebab, hari itu mereka akan belajar hukum secara langsung dari para jaksa dalam program Jaksa Mengajar yang diadakan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Sijunjung.
Tema yang diangkat kali ini sangat dekat dengan kehidupan para remaja: “Bullying dan Upaya Pencegahannya di Lingkungan Sekolah.” Sejenak, suasana aula berubah menjadi ruang diskusi terbuka. Tidak ada sekat antara jaksa, guru, dan siswa. Semua duduk bersama, menyimak, dan berbagi pengalaman.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Kejaksaan Negeri Sijunjung, Rina Idawani, S.H., C.N., M.M. Dengan suara tenang namun penuh wibawa, ia menyapa para siswa. Rina menekankan bahwa pihaknya ingin hadir bukan hanya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sahabat bagi generasi muda.
“Kami ingin anak-anak di Sijunjung tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, saling menghargai, dan menjauhi perilaku negatif. Bullying bukanlah hal sepele, ia bisa merusak masa depan korban sekaligus pelaku. Pencegahan harus dimulai dari diri kita sendiri, dari lingkungan sekolah,” tutur Rina yang disambut tepuk tangan meriah siswa.
Selanjutnya, giliran Kepala Seksi Intelijen Kejari Sijunjung, Dian Affandi Panjaitan, S.H., M.H., menyampaikan materi. Dengan gaya interaktif, Dian memaparkan berbagai bentuk bullying, mulai dari ejekan verbal, perlakuan fisik, hingga cyberbullying di media sosial. Ia bahkan memberikan contoh nyata kasus yang pernah terjadi di beberapa daerah.
“Bullying tidak bisa dianggap sebagai candaan. Ada undang-undang yang mengatur perlindungan anak, dan pelaku bisa dijerat hukum. Karena itu, jangan pernah diam jika kalian melihat ada teman yang menjadi korban. Laporkan, bantu, dan jadilah bagian dari solusi,” ujar Dian sembari melemparkan pertanyaan ringan yang dijawab antusias oleh para siswa.
Suasana aula pun semakin hidup. Beberapa siswa terlihat berbisik, mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari. Ada pula yang mencatat serius, seakan tak ingin kehilangan satu pun informasi.
Kepala SMA Negeri 1 Sijunjung, Hasmi Gustin Roza, S.Pd., M.Si., tidak kuasa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut kehadiran Kejari Sijunjung memberi energi baru bagi sekolah yang ia pimpin.
“Kami sangat berterima kasih atas inisiatif ini. Tema bullying memang sangat relevan dengan kehidupan siswa saat ini. Edukasi dari para jaksa tentu memberikan sudut pandang berbeda, yang bukan hanya mendidik tetapi juga melindungi. Harapan kami, setelah kegiatan ini siswa lebih berani menolak perundungan dan menjaga nama baik sekolah,” kata Hasmi penuh semangat.
Sesi tanya jawab menjadi momen paling ditunggu. Beberapa siswa mengangkat tangan, bertanya seputar cara menghadapi bullying hingga langkah hukum yang bisa ditempuh korban. Salah satu yang mendapat kesempatan berbicara adalah Daffa, siswa kelas XI.
“Saya jadi lebih sadar bahwa bullying itu bisa berdampak besar, bahkan bisa berurusan dengan hukum. Selama ini kami sering menganggap ejekan atau candaan itu biasa saja, padahal bisa menyakiti hati orang lain. Setelah kegiatan ini, saya ingin ikut menjaga agar sekolah kami bebas dari bullying,” ungkap Daffa, yang langsung disambut tepuk tangan teman-temannya.
Wajah ceria para siswa terlihat ketika mereka berinteraksi dengan jaksa. Beberapa bahkan mengangguk-angguk, seolah menemukan jawaban atas keresahan yang selama ini mereka alami.
Bagi Kejari Sijunjung, Jaksa Mengajar bukan sekadar program sosialisasi hukum, melainkan juga jembatan untuk mendekatkan institusi penegak hukum dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui kegiatan seperti ini, siswa diajak tidak hanya memahami aturan hukum, tetapi juga menanamkan nilai empati, persahabatan, dan tanggung jawab sosial.
Kegiatan yang berlangsung hampir dua jam itu ditutup dengan pesan bersama: menolak segala bentuk perundungan. Para siswa diajak untuk saling menghargai, membangun solidaritas, dan menjadi agen perubahan di lingkungannya.
Ketika acara usai, suasana aula dipenuhi wajah-wajah lega dan bahagia. Para siswa saling berfoto dengan jaksa, guru, dan teman-teman mereka. Beberapa bahkan masih berdiskusi hangat tentang materi yang baru saja disampaikan.
Hari itu, SMA Negeri 1 Sijunjung seolah menjadi saksi lahirnya komitmen baru: sekolah harus bebas dari bullying, dan setiap siswa punya peran penting dalam mewujudkannya.(Boy/Jon KPPN).


